Ga’ heran kalo ada yang bilang bahwa dieng plateu (dataran tinggi dieng) adalah nirwana tempat bersemayamnya para dewa dan dewi, soalnya emang bener-bener bagus (10 jempol deh untuk keindahan alamnya)
Setelah 2 minggu kita perperang dengan soal-soal ujian (yang buat cimutz selalu muntah –muntah setelah ngerjainnya) akhirnya Minggu, 17 januari 2010 cimutz dan temen-temen ILKOM laen memutuskan untuk have fun bareng ke dieng. Dengan rute yang diambil adalah Magelang – Temanggung – Wonosobo. Dengan para driver masing-masing yang agak stress (karena selalu kebut-kebutan dengan cara yang aman) akhirnya jam 10.30 kita sampai juga di dieng.
Shelter / gardu pandang dieng
Tempat pertama yang jadi sasaran kita untuk bernarsis ria adalah shelter/gardu pandang dieng. Wah… keren banget pemandangannya dari sini. Menurut pemandu kami, hampir semua rumah yang ada di dieng menggunakan asbes berwarna hitam, tujuannya adalah untuk menyerap panas dari matahari (secara dieng itu kan berada pada ketinggian 2000 M diatas permukaan air laut).
Candi Arjuna
Lokasi berikutnya adalah Candi Arjuna. Kalau kita membayangkan komplek Candi Arjuna ini seperti Candi Borobudur maka salah besar… karena Candi Arjuna hanya memiliki 5 buah bangunan Candi yang dinamai seperti para tokoh perwayangan Mahabarata. Menurut mitos dan cerita dari pemandu kami, di salah satu bangunan candi ini ada salah satu candi yang biasa dipakai untuk meminta enteng jodoh loh, jadi jangan lupa berdoa di sini yach hahahaha… Tapi inget memintanya hanya sama ALLAH SWT… ok (^_^)
Kawah Sikidang
Sebelum ke kawah ini Cimutz ingetin dulu deh buat bawa penutup hidung, karena bau belerang dari letupan lumpur kawah ini cukup menyengat loh. Oiya jangan lama-lama juga narsis di kawah ini, soalnya bau belerangnya juga bisa buat kepala pusing. Makanan ringan di daerah sini juga termasuk murah loh. Sebagai oleh2 dari dieng akhirnya cimutz beli syal (Rp.10.000) dan bunga edelweiss (Rp 2.000). padahal klo di pkir-pikir buat apa yach Cimutz beli bunga ini. Aneh… hahahahahaha…
Telaga warna, telaga pengilon dan goa-goa kecil disekitarnya
Telaga warna adalah tempat terakhir jalan-jalan kita (hiks hiks hiks sedih ga sempet ke telaga pengilon).
Lagi-lagi menurut bapak pemandu kami, telaga ini bisa berubah loh warnanya kalo tertimpa cahaya matahari yaitu berwarna hijau, biru, dan kuning. Tapi sayang waktu kami kesana matahari agak redup jadi warna telaga ini ga begitu jelas(!_!)
Oiya telaga warna ini juga sepertinya biasa dijadikan lokasi pemotretan para model, soalnya waktu kami kesana lagi ada sesi pemotretan hehehehe… (tapi sayang ga ada model cow ny hahahaha…)
Jangan lupa juga mengunjungi goa-goa kecil yang ada disekitar telaga ini, yaitu goa sumur, goa semar dan goa jaran (yang konon katanya ada stalagmit yang mirip seperti kepala kuda). Goa ini biasa dijadikan tempat semedi bagi penganut kejawen yang meminta sesuatu.
****Berpikir*** boleh juga nech semedi di salah satu goa ini, minta biar mirip sama dian sastro… wakakakakakka… just kidding bro ******
Katanya dulu pernah ada sekelompok wisnus yang berfoto di batu semar (dikatakan batu samara karena apabila dilihat dari samping nampak seperti semar) tapi ga nampak loh orang-orang yang difotonya, yang ada cuma bayangan semar ajah… lagi-lagi ih.. seyem…
Saran -> jaga ucapan yach klo ada disekitar goa-goa ini, soalnya masih berbau mistis bro… hehehehe….
Jam 15.30 tiba saatnya untuk pulang ke jogja, berat rasanya ninggalin dieng nan cantiq yang penuh misteri..
Satu hal yang cimutz rasain kurang dari perjalanan ini, yaitu:
- ga bisa foto bareng sama anak kecil yang berambut gimbal. Soalnya di dieng ini kan ada semacam tradisi pemotongan rambut gimbal, bagi anak-anak yang memiliki rambut gimbal…
- ga bisa liat golden maupun silver sunrise… padahal itu kan yang paling dicari… hiks hiks hiks…
perjalanan pulang
wah… ternyata pas perjalanan pulang kita kehujanan loh, yach namanya juga pegunungan hanya gerimis saja tapi sudah berkabut.. untung driver kita sudah handal dan terbiasa bawa mobil, jadi ga masalah…
sepanjang perjalanan (berangkat dan pulang) lagu wajib kita adalah “Kotak – pelan-pelan saja” hahahaha…